Aku kembali dengan membuat sebuah review novel, novel lama sihh Perahu Kertas-nya Dewi "Dee" Lestari, tahu kan??? (Sally kemana aja)
Telat sihh, kuno sihh, jadul sihh hehe, baru baca dan kelar setelah hampir
semingguan lebih baca. (Sally telat, jadul) hehe filmnya juga udah nonton berkali-kali pula.
Tapi lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali kan??? Dan tetep perlulah baca pula novelnya untung sih ternyata filmnya gak terlalu beda
atau bisa dibilang tipis bedanya haha. Makanya aku jadi pengen bikin sedikit review atau
sedikit sok membeda novel tebal ini keke, yaaa anggab saja sebagai kegiatan
menulis biar gak diem :P .
Sisi positif dari novel ini mengajarkan kita untuk bertahan,
berjuang dalam meraih cita-cita dan mimpi yang sudah kita pupuk. Disamping tema
cinta yang menurutku bagus gak monoton dan dewasa, tema cintanya juga mencoba
mengajarkan agar kita bisa menerima, rela ikhlas terhadap orang yang kita
cintai, harus bisa membedakan mana realitas mana just dream.
Tapi disisi lain kisah Kugy dan Keenan ini juga
memperlihatkan bahwa mereka terlalu “memuja” untuk terus mengejar mimpi yang
mereka bangun, mencoba mematahkan realitas yang tak mereka sukai dan
mengedepankan mimpi dengan setengah mati. Kalo dilogika atau dilihat dalam
kehidupan nyata hal itu agaknya sedikit banyak mustahil, bukan aku tak percaya
bahwa kita mampu mewujudkan mimpi apapun tapi pada kenyataanya jalan yang kita
tempuh untuk mencapai itu memang tidak mudah, berliku dan kadang jalan lain
pula yang harus kita gapai demi mimpi meski tidak sejalan dengan keinginan
tapi...itulah realitas...itulah kehidupan yang nyata karena kita bukan hidup
dalam negeri dongeng.
Selain itu, perasaan cinta Kugy yang terlihat setengah mati
pada Keenan membuatnya menjadi tokoh yang kadang terlihat egosi, egois pada
perasaanya sehingga sedikit saja menyinggung tentang Keenan, melukis atau
apapun yang berhubungan dengan Keenan lukanya langsung terbuka, hatinya
langsung goyah.
Tapi memang begitulah kisah fiksi dibangun, lengkap dengan
segala konflik agar seperti cerminan kehidupan karena novel juga cerita yang
dibangun agar seperti kehidupan agar didalamnya juga punya kehidupan. So far
tetep layak, dan pantas jadi best seller dan diangkat jadi film :)