Senin, 04 Agustus 2014

[REVIEW] Novel Perahu Kertas

Halooo sahabattt xixixixi lama nihh gak nulis, masih suasana lebaran Sally mo mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi yang merayakan Mohon maaf lahir batin :)


Aku kembali dengan membuat sebuah review novel, novel lama sihh Perahu Kertas-nya Dewi "Dee" Lestari, tahu kan??? (Sally kemana aja) 


Telat sihh, kuno sihh, jadul sihh hehe, baru baca dan kelar setelah hampir semingguan lebih baca. (Sally telat, jadul)  hehe filmnya juga udah nonton berkali-kali pula. Tapi lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali kan??? Dan tetep perlulah baca pula novelnya untung sih ternyata filmnya gak terlalu beda atau bisa dibilang tipis bedanya haha. Makanya aku jadi pengen bikin sedikit review atau sedikit sok membeda novel tebal ini keke, yaaa anggab saja sebagai kegiatan menulis biar gak diem :P .


Sisi positif dari novel ini mengajarkan kita untuk bertahan, berjuang dalam meraih cita-cita dan mimpi yang sudah kita pupuk. Disamping tema cinta yang menurutku bagus gak monoton dan dewasa, tema cintanya juga mencoba mengajarkan agar kita bisa menerima, rela ikhlas terhadap orang yang kita cintai, harus bisa membedakan mana realitas mana just dream.

Tapi disisi lain kisah Kugy dan Keenan ini juga memperlihatkan bahwa mereka terlalu “memuja” untuk terus mengejar mimpi yang mereka bangun, mencoba mematahkan realitas yang tak mereka sukai dan mengedepankan mimpi dengan setengah mati. Kalo dilogika atau dilihat dalam kehidupan nyata hal itu agaknya sedikit banyak mustahil, bukan aku tak percaya bahwa kita mampu mewujudkan mimpi apapun tapi pada kenyataanya jalan yang kita tempuh untuk mencapai itu memang tidak mudah, berliku dan kadang jalan lain pula yang harus kita gapai demi mimpi meski tidak sejalan dengan keinginan tapi...itulah realitas...itulah kehidupan yang nyata karena kita bukan hidup dalam negeri dongeng.

Selain itu, perasaan cinta Kugy yang terlihat setengah mati pada Keenan membuatnya menjadi tokoh yang kadang terlihat egosi, egois pada perasaanya sehingga sedikit saja menyinggung tentang Keenan, melukis atau apapun yang berhubungan dengan Keenan lukanya langsung terbuka, hatinya langsung goyah.

Tapi memang begitulah kisah fiksi dibangun, lengkap dengan segala konflik agar seperti cerminan kehidupan karena novel juga cerita yang dibangun agar seperti kehidupan agar didalamnya juga punya kehidupan. So far tetep layak, dan pantas jadi best seller dan diangkat jadi film :)
  

PENGUMUMAN

  BLOG INI SUDAH TIDAK AKAN DIPERBAHARUI LAGI....MOVE TO RUMAHIMAJINASIKUU.WORDPRESS.COM