Jujur sebenernya
aku termasuk jarang mau nonton film Indonesia genre remaja di bioskop atau yang
kelihatannya unsur cinta-cintaan anak remaja karena rata-rata film ABG hampir
ceritanya menye-menye belum lagi actor-actrisnya yang masih newbie sebelumnya
terkenal karena main sinetron. Aku sangat gak suka. Termasuk film Dua
Garis Biru ini nih, awal keluar teasermya nonton bisa nebak ini mau
nyeritain soal apa. Dan ya aku gak tertarik sama sekali apalagi kala itu
langsung pro kontra dikalangan masyarakat atau dikalangan netijen Indonesia
yang maha tahu segalanya.
Meskipun pada
awalnya aku gak tertarik, tapi aku sebel juga nih sama pro kontra sampai ada
petisi buat diboikot. Gimana ya, kadang orang Indonesia itu suka melihatnya
dari sudut pandang yang terlalu kolot, alias belum nonton udah ngjude duluan. Ya
mungkin sebenernya aku sendiri juga bisa dibilang termasuk kayak gitu, tapi aku
tipe yang gak bakal memamerkan kenyinyiranku lewat media sosial secara
terang-terangan hehehe. Nah setelah film ini tayang kok baru semingguan tuh
gaungnya heboh banget, rame di media sosial soal review-review yang ceritanya
bagus, bikin mewek bla bla bla. Lama-lama masih biasa aja, terus masuk minggu
ke dua kok makin rame aja malah sampai tembus masuk 1 juta pentonton dan
akhirnya memutuskan untuk menonton juga di masuk minggu ke tiga di tanggal 28
Juli 2019.
Dan....aku akuin
film ini beneran bagus banget. Pesan moralnya beneran kuat. Alur ceritanya
rapi, akting pemain-pemainnya juga total. Unsur keluarganya kuat sekali. Konfliknya
juga sesuai dengan masalah remaja yang mengalami hamil di luar nikah. Bagaimana
dua remaja ini menghadapi situasi sendirian, berharap gak ada yang tahu. Bagaimana
mereka bakal menjadi orang tua diusia yang sangat muda, bagaimana menghadapi konflik
megenai pilihan masa depan mereka yang masih panjang. Tak hanya itu Bagaimana keluarga
Dara dan Bima menyikapi masalah besar yang menimpa anak-anaknya. Bagaimana orang
tua berharap bisa menjadi orang tua yang sempurna tetapi pada dasarnya mereka
tetap tidak bisa menjadi sosok yang sempurna. Sosok orang tua yang tetap marah
dan kecewa kalau anaknya melakukan kesalahan tetapi di depan umum tetap tidak
terima jika anaknya diperlakukan tidak adil. Ini beneran harus di contoh,
kadang orang tua terlalu membela anaknya sehingga kalau anaknya berbuat
kesalahan mereka tidak berani atau menegur anaknya padahal hal itu harus
dilakukan demi kebaikan anaknya sendiri biar tidak mengulangi kesalahan yang
sama.
Aku suka bagian
sex educationnya, di sini penyampaiannya bagus. Dokter kandungannya tidak
digambarkan sosok yang ngjudge tentang yang dialami oleh Dara dan Bima. Tetapi semacam
“mengayomi” dan tetap memberikan pelajaran mengenai sex sesuai prosi usia
mereka, menurutku cukup tersampaikan dengan apik kepada penonton tanpa membuat
kesannya kalau itu pembicaraan yang tabu. Ini menjadi poin penting dalam film
ini yang wajib ditonton buat anak-anak SMP – SMA yang lagi mulai jatuh cinta
lagi hangat-hangatnya pacaran biar gak kebablasan. Biar gak senang berbuat
doang tanpa tahu akibat dampak dari perbuatannya yang ujung-ujungnya tidak mau
bertanggung jawab.
Walau pun aku
gak mewek nonton film ini. FYI temenku yang biasa nonton sama aku malah yang
mewek padahal dia bukan tipe cewek yang bakal mudah terharu/tersentuh, eh malah
dia yang mewek kekeke. Jadi meskipun aku gak mewek nonton film ini aku sangat
menikmati film Dua Garis Biru ini, gak nyesel nonton film ini di bioskop mungkin
malah nyesel kalo gak nonton dibioskop nunggu beredar di warnet hehehe dan
wajar kalau film ini masih bertahan di bioskop sampai memasuki minggu ketiga. Menurutku
wajib banget sih ini ditonton buat keluarga, anak-anak remaja yang lagi puber. Dan
menurutku apa yang di keluhkan netijen Indonesia takut kalau film ini bakal
memberi dampak buruk buat remaja Indonesia itu SALAH BESAR!!!! Justru dengan
adanya film ini biar anak-anak remaja itu gak kebablasan tanpa tahu akibat dari
perbuatan mereka, biar mereka gak menganggab enteng akibat dari sex diusia
sekolah. Lihat aja diberita-berita banyak kan kasus-kasus hamil diluar nikah
yang akibatnya malah semakin buruk, mulai dari menggugurkan, membuang bayi
tanpa hati nurani atau membunuh bayinya yang baru lahir. Lebih parah kalau
sampai si lelaki malah membunuh si perempuan apa gak lebih mengerikan itu? Aku malah
pernah baca di sebuah media sosial dia pernah melakukan having sex saat masih
muda akhiranya sih menikah tapi ujung-ujungnya si perempuan disiksa juga sama
si laki. Kalau mau jujur yang berdampak buruk ya sinetron remaja Indonesia yang
ditivi-tivi itu.
Kalimat favorite
di film ini adalah “Menjadi orang tua itu bukan cuman hamil 9 bulan 10 hari. Tapi
pekerjaan seumur hidup” duh
duhh....bener-bener ngena banget, langsung auto inget orang tua di rumah.
Jadi....mumpung
film ini masih tayang buruaaaan tonton Dua Garis Biru di bioskop, banyak sekali
pembelajaran yang bisa diambil. Buat remaja-remaja boleh banget lah tonton sama
pacarnya. Buat orang tua juga ajak sekeluarga, ajak anak-anakmu yang bakal
memasuki masa puber. Wajib banget ini ditonton! Maju terus film Indonesia yang
berkualitas!!!!!
Next “Manisnya Kerja Sama Kaitou KID dan Conan di Film
Terbaru Detective Conan : The Fist Of Blue Sapphire “

































