Rabu, 14 Mei 2014

Gaya Budaya 2013

Tulisan ini pernah dicetak untuk artikel majalah kelompok kelas Sastra Indonesia dalam tugas mata kuliah Jurnalistik dengan judul "Mutasi Budaya" 

DILARANG COPY PASTE DALAM BENTUK APAPUN! Terima Kasih.


JIKA ADA DI ANTARA KALIAN YANG KEBETULAN LEWAT DAN MEMBACA AKU SANGAT BERTERIMA KASIH KALIAN MAU MAMPIR DAN MEMBERI KRITIK DAN SARAN ^^

Gamsahamnida.....Arigatoooo....Thank you....Terima Kasih :)



Remaja saat ini tengah dihadapkan pada pilihan berbudaya. Hal ini disebabkan banyaknya budaya-budaya yang masuk di Indonesia menggerus dan bercampur dengan budaya sendiri, sehingga sulit dibedakan mana budaya yang original milik Indonesia atau yang sudah bercampur dengan budaya luar.

Seperti yang terjadi beberapa tahun ini masuknya budaya Korea sedikit banyak telah bercampur dengan budaya Indonesia sehingga cukup mempengaruhi remaja-remaja di Indonesia. Percampuran ini awalnya dimulai dari masuknya drama-drama buatan negeri Gingseng pada pasaran Indonesia selanjutnya mereka mulai mengenal yang namanya boyband ataupun girlband yang membuat para remaja-remaja bahkan tidak jarang ibu-ibu jatuh hati pada penampilan dan gaya-gaya yang disugguhkan.

Hampir remaja-remaja di Indonesia kini telah ‘terkontaminasi’ kebudayaan mereka terhadap budaya Korea, meski begitu kejadian ini tidak selamanya membawa dampak buruk. Dari pengamatan pada sebuah situs sosial media ada hal-hal positif yang mereka rasakan setelah menjadi seorang ‘kpopers’ sebutan bagi mereka-mereka yang menyukai boyband maupun girlband Korea. Mereka merasa menjadi lebih mudah bergaul dengan orang untuk mendapat teman-teman yang ‘sealiran’ dengan mereka, selain itu para ‘Kpopers’ ini yang tadinya buta bahasa Inggris mereka akan berusaha belajar bahasa Inggris meski secara otodidak karena dalam drama ataupun viarty show yang mereka tonton menggunakan terjemahan bahasa Inggris selain itu bahasa Inggris menjadi salah satu komunikasi dengan teman-teman fans dari luar negeri yang mereka kenal tentu lewat sosial media yang ada saat ini.

Keuntungan lain yang mereka rasakan juga, menjadi lebih hemat menurut para penggila Korea ini demi membeli barang-barang yang berhubungan dengan idola mereka seperti album, pernak-pernik dan sebagainya mereka rela menabung bahkan mengurangi jatah jajan demi dapat membeli itu semua meski bagi orang awam hal seperti ini bisa dianggap lebay atau buang-buang uang namun disisi lain kadang keuntungan dari membeli barang-barang yang tidak murah itu mereka bisa menjual lagi jika memang sedang membutuhkan uang untuk keperluan lain. Ada hal yang tidak boleh terlupa untuk hal ini, masuknya budaya Korea juga telah mengajarkan sebagaian remaja mulai belajar menjadi penulis ‘amatir’. Remaja-remaja yang telah masuk pada budaya ini tentu mengenal yang namanya fanfict yakni cerita-cerita fiksi tentang idola mereka atau sejenis cerpen tetapi dengan latar belakang idola mereka.

Banyak di jejaring sosial seperti facebook ataupun blog-blog telah memuat berbagai fanfict karya-karya penulis ‘amatir’ dengan viewers dan komentar yang tidak hanya segelintir dua gelintir sehingga tidak bisa dipandang sebelah mata meski dalam dunia kepenulisan mungkin hal seperti itu merupakan seperti sebuah aji mumpung atau hanya mengikuti arus tetapi patut diperhitungkan kemampuan menulisnya bahkan sebagian yang memiliki viewers tidak sedikit itu telah menerbitkan tulisan ‘amatirnya’ menjadi sebuah novel.

Jika jeli, dampak positif ini tidak hanya dirasakan bagi remaja-remaja yang menggilainya tetapi bagi Indonesia sendiri memiliki dampak positif yang bisa diperhatikan. Beberapa tahun ini Indonesia menjadi tempat tujuan para artis-artis Korea untuk menggelar konser hal ini tentu juga berdampak baik bagi pariwisata Indonesia, datangnya artis-artis tersebut turut menarik banyak wisatawan luar negeri ke dalam negeri setidaknya sekaligus mengenalkan pariwisata yang ada di Indonesia.
Ada dampak positif tentu saja ada dampak negatifnya. Seperti banyak dikatahui sekarang ini genre musik di Indonesia juga mulai berubah sejak masuknya boyband dan girlband Korea mulai banyak bermunculan girlband dan boyband buatan Indonesia hal ini banyak menuai kontroversi banyak yang mengaggap mereka hanya ‘meniru’ apa yang bisa ditiru sehingga sulit sekali mencari yang orginal kreatifitas sendiri. Sasaran faishon pun kini berubah dengan berkiblat pakaian ala-ala Korea. Hal ini pula biasanya membuat remaja-remaja dibawah 17 tahun yang sedang menyenangi Kpop sering membanding-bandingkan budaya sendiri dengan budaya Korea bahkan tidak jarang mereka akan saling beradu argumen tentang apa yang menjadi kesukaanya dengan yang tidak ‘terjerumus’ pada budaya Korea.
Tak dapat dipungkiri perubahan jaman yang semakin moderen seperti sekarang ini memberi peluang besar untuk masuknya budaya lain ke dalam negeri melalui media elektronik maupun cetak dan sosial media. Sehingga memudahkan remaja untuk mengakses dunia luar tanpa batasan jarak sekalipun. Masuknya budaya luar tidak dapat dicegah akan tetapi tidak juga sebagai ajang menghapus atau meninggalkan budaya sendiri tetapi harus menjadi suatu wadah untuk belajar menghargai budaya sendiri dan budaya orang lain. Kita bisa mengambil yang positif dari budaya luar lalu memperbaiki budaya sendiri agar lebih menarik dan dapat ditonjolkan pada orang luar sehingga kita tidak selamanya hanya menerima tetapi juga memamerkan keunggulan milik kita.

Sally Pawestri
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGUMUMAN

  BLOG INI SUDAH TIDAK AKAN DIPERBAHARUI LAGI....MOVE TO RUMAHIMAJINASIKUU.WORDPRESS.COM