Tulisan ini pernah dicetak untuk artikel majalah kelompok kelas Sastra Indonesia dalam tugas mata kuliah Jurnalistik dengan judul "Mutasi Budaya"
DILARANG COPY PASTE DALAM BENTUK APAPUN! Terima Kasih.
JIKA
ADA DI ANTARA KALIAN YANG KEBETULAN LEWAT DAN MEMBACA AKU SANGAT
BERTERIMA KASIH KALIAN MAU MAMPIR DAN MEMBERI KRITIK DAN SARAN ^^
Gamsahamnida.....Arigatoooo....Thank you....Terima Kasih :)
Gamsahamnida.....Arigatoooo....Thank you....Terima Kasih :)
Remaja saat ini tengah dihadapkan
pada pilihan berbudaya. Hal ini disebabkan banyaknya budaya-budaya yang masuk
di Indonesia menggerus dan bercampur dengan budaya sendiri, sehingga sulit
dibedakan mana budaya yang original
milik Indonesia atau yang sudah bercampur dengan budaya luar.
Seperti yang terjadi beberapa tahun
ini masuknya budaya Korea sedikit banyak telah bercampur dengan budaya
Indonesia sehingga cukup mempengaruhi remaja-remaja di Indonesia. Percampuran
ini awalnya dimulai dari masuknya drama-drama buatan negeri Gingseng pada
pasaran Indonesia selanjutnya mereka mulai mengenal yang namanya boyband ataupun girlband yang membuat para remaja-remaja bahkan tidak jarang
ibu-ibu jatuh hati pada penampilan dan gaya-gaya yang disugguhkan.
Hampir remaja-remaja di Indonesia
kini telah ‘terkontaminasi’ kebudayaan mereka terhadap budaya Korea, meski
begitu kejadian ini tidak selamanya membawa dampak buruk. Dari pengamatan pada
sebuah situs sosial media ada hal-hal positif yang mereka rasakan setelah
menjadi seorang ‘kpopers’ sebutan bagi mereka-mereka yang menyukai boyband maupun girlband Korea. Mereka merasa menjadi lebih mudah bergaul dengan
orang untuk mendapat teman-teman yang ‘sealiran’ dengan mereka, selain itu para
‘Kpopers’ ini yang tadinya buta bahasa Inggris mereka akan berusaha belajar
bahasa Inggris meski secara otodidak karena dalam drama ataupun viarty show yang mereka tonton
menggunakan terjemahan bahasa Inggris selain itu bahasa Inggris menjadi salah
satu komunikasi dengan teman-teman fans dari luar negeri yang mereka kenal
tentu lewat sosial media yang ada saat ini.
Keuntungan lain yang mereka rasakan
juga, menjadi lebih hemat menurut para penggila Korea ini demi membeli
barang-barang yang berhubungan dengan idola mereka seperti album, pernak-pernik
dan sebagainya mereka rela menabung bahkan mengurangi jatah jajan demi dapat
membeli itu semua meski bagi orang awam hal seperti ini bisa dianggap lebay
atau buang-buang uang namun disisi lain kadang keuntungan dari membeli
barang-barang yang tidak murah itu mereka bisa menjual lagi jika memang sedang
membutuhkan uang untuk keperluan lain. Ada hal yang tidak boleh terlupa untuk
hal ini, masuknya budaya Korea juga telah mengajarkan sebagaian remaja mulai
belajar menjadi penulis ‘amatir’. Remaja-remaja yang telah masuk pada budaya
ini tentu mengenal yang namanya fanfict
yakni cerita-cerita fiksi tentang idola mereka atau sejenis cerpen tetapi
dengan latar belakang idola mereka.
Banyak di jejaring sosial seperti
facebook ataupun blog-blog telah memuat berbagai fanfict karya-karya penulis
‘amatir’ dengan viewers dan komentar
yang tidak hanya segelintir dua gelintir sehingga tidak bisa dipandang sebelah
mata meski dalam dunia kepenulisan mungkin hal seperti itu merupakan seperti
sebuah aji mumpung atau hanya mengikuti arus tetapi patut diperhitungkan
kemampuan menulisnya bahkan sebagian yang memiliki viewers tidak sedikit itu telah menerbitkan tulisan ‘amatirnya’
menjadi sebuah novel.
Jika jeli, dampak positif ini tidak
hanya dirasakan bagi remaja-remaja yang menggilainya tetapi bagi Indonesia
sendiri memiliki dampak positif yang bisa diperhatikan. Beberapa tahun ini
Indonesia menjadi tempat tujuan para artis-artis Korea untuk menggelar konser
hal ini tentu juga berdampak baik bagi pariwisata Indonesia, datangnya
artis-artis tersebut turut menarik banyak wisatawan luar negeri ke dalam negeri
setidaknya sekaligus mengenalkan pariwisata yang ada di Indonesia.
Ada dampak positif tentu saja ada
dampak negatifnya. Seperti banyak dikatahui sekarang ini genre musik di Indonesia juga mulai berubah sejak masuknya boyband
dan girlband Korea mulai banyak bermunculan girlband dan boyband buatan
Indonesia hal ini banyak menuai kontroversi banyak yang mengaggap mereka hanya
‘meniru’ apa yang bisa ditiru sehingga sulit sekali mencari yang orginal
kreatifitas sendiri. Sasaran faishon pun kini berubah dengan berkiblat pakaian ala-ala
Korea. Hal ini pula biasanya membuat remaja-remaja dibawah 17 tahun yang sedang
menyenangi Kpop sering membanding-bandingkan budaya sendiri dengan budaya Korea
bahkan tidak jarang mereka akan saling beradu argumen tentang apa yang menjadi
kesukaanya dengan yang tidak ‘terjerumus’ pada budaya Korea.
Tak dapat dipungkiri perubahan
jaman yang semakin moderen seperti sekarang ini memberi peluang besar untuk
masuknya budaya lain ke dalam negeri melalui media elektronik maupun cetak dan
sosial media. Sehingga memudahkan remaja untuk mengakses dunia luar tanpa
batasan jarak sekalipun. Masuknya budaya luar tidak dapat dicegah akan tetapi
tidak juga sebagai ajang menghapus atau meninggalkan budaya sendiri tetapi
harus menjadi suatu wadah untuk belajar menghargai budaya sendiri dan budaya
orang lain. Kita bisa mengambil yang positif dari budaya luar lalu memperbaiki
budaya sendiri agar lebih menarik dan dapat ditonjolkan pada orang luar
sehingga kita tidak selamanya hanya menerima tetapi juga memamerkan keunggulan
milik kita.
Sally Pawestri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar