06 06 2020 – 14 12 2020
Sudah 192 hari. Tapi rasa kehilangan itu masih terus
mengikutiku, suasana sabtu pagi itu masih terus terekam jelas diingatan dan di
mataku. Bagaimana sesaknya dadaku karena air mata yang tumpah tak
henti-hentinya melepas kepergian Bapak untuk selamanya. Tak pernah ku bayangkan
rasanya seperti itu, tak pernah ku bayangkan rasanya akan secepat itu.
Hingga kini, semua itu sangat membekas di hati, luka itu
menoreh seperti trauma yang cukup dalam pada hatiku hingga membuatku merasa
melupakan semua kenangan manis yang sudah terjadi sepanjang hidupku bersamaa
bapak. Aku benci itu, karena setiap merindu yang ku ingat justru suasana sabtu
pagi itu, setiap merindu yang ku ingat hanya tangisanku pada hari itu dan itu
semakin membuatku terluka.
Desember ini aku ingat jelas tahun 2019 ketika kondisi
beliau drop harus dirawat paling lama hampir 2 minggu lebih. Semangat beliau
melawan sakitnya tak pernah padam. Tahun ini memang pas 3 tahun perjuangan
bapak melawan sakitnya tapi belum sampai 3 tahun bulat, beliau telah selesai
berjuang.
Dulu aku hanya menyangkan itu hanya ada dalam sinetron,
film, atau drama Korea saat dokter bilang usia bapak kemungkinan hanya sampai
3-5 tahun lagi. Pada saat itu aku terkejut, tapi aku merasa tidak percaya. Bahkan
hingga setahun awal pengobatan dijalani bapak saja aku masih tidak percaya bapak
punya penyakit langka yang menjadi momok bagi semua orang karena selama
perjuangan kemoterapi bapak termasuk pasien yang sangat kuat punya semangat
tinggi hingga tak nampak seperti orang yang punya penyakit mematikan bahkan
dokter utama yang merawat bapak, yang memberikan kemoterapi pertama saja
mengakui bapak pasiennya yang paling kuat.
Aku tidak tahu bagaimana menyembuhkan batinku sendiri. Terkadang aku sudah ikhlas terkadang aku
masih menanyakan kenapa harus secapat itu? Aku terus mencari-cari kenangan yang
seperti hilang karena tertutup oleh rasa traumaku sendiri. Aku takut jika aku
melupakan semua kenangan masa kecilku bersama bapak, semua pelajaran hidup,
senyumannya, nada suaranya, petuahnya serta kasih sayangnya padaku.
Trauma itu memang menakutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar