Sebagai
warga negara Indonesia yang baik tentu harus dan wajib menghargai dan mencintai
apapun yang dipunya negaranya sendiri. Tapi tentu untuk hal-hal yang positif
mulai dari sejarah, alam, orang, kemampuan, musik, budaya atau karya seni. Tulisan
ini semacam kekecewaan dan kekesalanku semata mengenai sesuatu yang memang ada
di Indonesia. Sinetron. Ahhh orang pasti bisa membayangkan kemana arah tulisan
ini. Tapi serius ini hanya unek-unek yang keseringan menumpuk dihati dan
pikiran ada baiknya dikeluarkan biar gak jadi racun.
Ada
apa dengan sinetron Indonesia? Ayolah pasti bisa menebakkan seperti apa nilai
jual yang ditawarkan sinetron negara kita kan? Penindasan, kebut-kebutan,
cinta-cintaan, nangis-nangisan yang entah kapan selesai. Aku gak ngerti sama
jalan pikir para produser, penulis skenario dan sutradara kenapa suka sekali
bikin sinetron seperti itu bahkan dengan jumlah episode saingan sama jumlah
anime Detective Conan yang juga gak selesai-selesai.
Lucu
lagi kalau ceritanya si tokoh utama udah lama dihilangkan dan tidak sesuai
judul. Pliss deh ah ya?? Sangking gak punya ide ato sangkin nyari duitnya? Aku gak
munafik dulu jaman masih SD-SMP juga maniak sinetron tiap malem nongkrongin
sinetron kok sampe kena omelan babe suruh belajar. Tapi....itu dulu sebelum
sadar kalo sinetron itu merusak moral :D
Yang
menjadi keluhaanku (mungkin ada orang lain juga PASTI ADA SIH) kenapa gak
berani mencoba sesuatu yang beda? Karena aku penggemar drama Korea dan Jepang
pasti akan ngambil contoh dari mereka. Mereka bikin cerita selalu variasi,
jumlah episode paling 12, 16, 20, 25 ato mentok 60an itu untuk drama tema
saeguk (sejarah) ato emang khusus untuk sasaran keluarga. Artisnya juga variasi
gak melulu si artis pemeran antagonis dapet antagonis si prontagonis selalu
dapat prontagonis. Jadi si artis sendiri bisa mengembangkan kemampuan
aktingnya.
Okelah
semua itu biasanya tergantung si penonton sendiri, tipikal warga Indonesia kan
sekali suka bakal minta terus alias nontonin terus wajar sih kalo produser
terus semangat memperpanjang meski ceritanya ngalor ngidul gak karuan. Aku mau
ngaitin ini sedikit dengan kasus-kasus kekerasan remaja di Indonesia yang makin
mengerikan. Coba bayangkan anak SD sudah bisa pacaran ngomongnya sok Lo gue
gayanya dandananya melebihi usianya. Itu semua dari mana? Dari tontonan
sinetron
Anak-anak
remaja menggandrungi kebut-kebutan motor dari mana sumbernya? Dari tontonan
sinetron. Coba telusuk lagi di media sosial banyak video-video perkelahian anak
perempuan berjilbab, itu semua karena apa? Tontonan sinetron. Anak SMP
menyatakan cinta dengan berani pake segala macam hadiah ngalah-ngalahin yang
sudah saatnya nikah. Belajar dari mana itu? Ya dari sinetron. Itu semua belum
seberapa, kalo mau dijemberengi bisa-bisa aku bikin novel karena terlalu
panjang. Jadi mohon maaf kalo aku harus bilang tontonan sinetron Indonesia saat
ini sungguh merusak moral bangsa.
Ato
kasus murid yang berani melawan guru bahkan hingga membunuh. Itu dari mana? Keberanian
mengerikan itu dari mana? Pasti sinetron yang selalu unsur penindasan bahkan
ada yang ngasih gambaran anak murid berani melawan guru sendiri.
Tuan-tuan
pak produser, tuan penulis skenario sinetron, tuan sutradara dengarkanlah keluh
kesah ini. Tolong bantu selamatkan anak bangsa kita yang mulai tidak bermoral
ini. Buatlah tontonan yang mendidik, kalian membuat cerita tema sekolah tetapi
tidak ada unsur sekolahnya lagi-lagi penindasan yang bahkan tidak manusiawi. Bisakan
bikin tema yang mengajarkan untuk stop bullying? Saat ini masih banyak banget
kasus bully dikalangan anak remaja contoh gampangnya aja MOS ato OSPEK itu
masih banyak yang diplonco.
Dan
tolonglah buat cerita itu sesuai sasaran yang diinginkan jangan mencakup semua.
Itu namanya serakah karena yang kalian inginkan keuntungan. Buatlah cerita itu
ada pesan moralnya, itu kalo kalian bisa jangan-jangan kalian juga tidak punya
itu semua hahaha maaf.




